Rabu, 12 Juni 2013
GUNUNG NGLANGGERAN
Gunung Nglanggeran
Gunung Nglanggeran terletak dikawasan Batur Agung di bagian utara Kabupaten Gunung Kidul dengan ketinggian antara 200-700 mdpl, tepatnya di desa Nglanggeran kecamatan Patuk dengan jarak tempuh 22 Km dari kota Wonosari. Kawasan ini merupakan kawasan yang litologinya disusun oleh material vulkanik tua dan bentang alamnya memiliki keindahan dan secara geologi sangat unik dan bernilai ilmiah tinggi. Dari hasil penelitian dan referensi yang ada, dinyata bahwa Gunung Nglanggeran adalah Gunung berapi purba. Lokasi ini sangat cocok untuk kegiatan panjat tebing, trekking, jelajah wisata dan berkemah
LAVA TOUR
Lava Tour
Sejak erupsi 2010 lalu, suasana di Desa Kinahrejo berubah darstis. Puing-puing, pasir dan bebatuan lava yang dulu menghantam Kinahrejo kini menyisakan keeksostisan. Sekarang, daerah tesebut menjadi tujuan wisata dengan nuansa yang baru dan berbeda. Tak selamanya bencana berakhir dengan tangisan. Merapi tak lagi menyeramkan dan suram, kini hanya keeksostisan dan pesona yang mampu mendatangkan banyak wisatawan. Jika mendatangi area lava tour di Kinahrejo dan Pangukrejo pada pagi hari, suasana yang tergambar masih sangat damai dan cantik. Kondisi langit masih cerah sehingga kita dapat melihat jelas gagahnya Gunung Merapi. Namun bagi pengunjung yang membutuhkan jasa pemandu, disana nanti disediakan. Disana juga ada jasa penyewaan sepeda dan sepeda motor, untuk mengelilingi lava tour, juga ada mobil jeep, yang siap mengantar keliling-keliling lava tour.
RUTE DAN OBYEK
• Rute
Mulai - kali opak - situs tugu ambruk – Kali gendol – Makam mbah Maridjan – Batu besar Mirip wajah manusia-Puncak kali adem- bekas Bunker kali adem- bukit petung- museum sisa hartaku- Makam masal
• Obyek
Kali Opak/ Sungai Opak
Adalah salah satu sungai yang berhulu dilereng Gunung Merapi sebelah Selatan dan merupakan salah satu sungai yang dilewati lahar dingin sesudah erupsi Gunung Merapi yang mengakibatkan terputusnya jalan penghubung antara Desa Umbulharo dengan desa Kepuharjo. Untuk pengunjung yang memilih jalur semi ekstrim maka jalur jeep wisata akan melalui tengah Kali Opak yang hanya bisa dilalui dengan jeep dan motor trail.
Tugu Ambruk
Adalah area yang masih termasuk dalam area sungai Opak yang dulunya merupakan jalan yang menghubungkan antara Desa Umbulharjo dan Desa Kepuharjo. Pada saat terjadi lahar dingin tempat ini dulu terkubur oleh material Merapi, dalam sungainya sekitar 20 M
Batu Alien
Adalah salah satu batu besar yang berasal dari Merapi dan sekilas memiliki bentuk seperti raut muka olmanusia yang berupa kakek-kakek yang sedang bersedih hati dan terletak dipinggir Sungai Gendol dan masuk di Dusun Jambu, batu ini menurut kepercayaan masyarakat setempat mempunyai kekuatan magis.
Material Panas Sungai Gendol
Adalah suatu fenomena yang ada di aliran Sungai Gendol apabila terjadi aliran lahar dingin sehingga material panas yang terkena aliran lahar dingin akan menyebabkan letupan-letupan kecil dan menghasilkan asap belerang.
Kampung Kaliadem
Adalah sebuah bekas perkampungan yang dulunya merupakan daerah wisata alam yang sekarang tertutup oleh material erupsi yang berjarak 6 Km dari puncak merapi
Bunker Kaliadem
Adalah sebuah bekas tempat perlindungan untuk mengantisipasi letusan Gunung Merapi dan terletak di Kampung Kaliadem yang pada letusan Merapi Tahun 2006 memakan korban sebanyak 2 orang
Makam Almarhum Mbah Maridjan
Adalah tempat dimakamkannya sang juru kunci Merapi yang sangat terkenal yaitu Alm. Mbah Maridjan, yang terletak di Kampung Srunen, Glagaharjo, Cangkringan atau 5 Km dari puncak Merapi.
Museum Mini “Sisa Hartaku”
Adalah sebuah museum yang menyimpan benda dan barang bekas sisa erupsi Merapi tahun 2010 yang terdiri dari tulang ternak, jam erupsi, botol leleh, gamelan, kendaraan dan lain-lain.
GOA PINDUL
Goa Pindul
Gua pindul merupakan satu dari rangkaian tujuh gua yang daliri sungai bawah tanah di daerah Bejiharjo, masyarakat setempat menyebut tujuh sumber mata air : mata air Sungai Modal, Semurup, Plengkung, alam kedung Buntung, Gedang Tirto, Suroh, Sungai Pindul dan Gedong, dan masih ada gua yang mempunyai stalagmite dan stalagtit yang lebih bagus yaitu Goa Sie Oyot, karang taruna gelaran II yang melibatkan Dinas pariwisata Gunung Kidul dan tokoh masyarakat serta warga dusun sekitar, dengan pemandunya yang bertitle Wira Wisata siap mengantarkan wisatawan.
KAWASAN 7 PANTAI
Tujuh Pantai dalam Satu Kawasan
Tujuh Pantai dalam satu kawasan (Pantai Baron, Pantai kukup, Pantai Sepanjang, Pantai Drini, Pantai Krakal, Pantai Slili, Pantai Ngandong dan Pantai sundak).
Kabupaten Gunung Kidul, mempunyai obyek wisata unggulan yaitu obyek wisata alam pantai sejumlah ± 46 pantai, terbentang sejauh 70 Km di wilayah Selatan Kabupaten Gunung Kidul mulai dari ujung Barat ke ujung Timur, dan salah satunya adalah suatu kawasan yang terdir dari tujuh pantai dan letaknya saling berdekatan. Ketujuh Pantai tersebut letaknya di Kecamatan Tanjungsari dan Kecamatan Tepus sejauh 23 Km – 31 Km dan jarak tempuh ± 30 menit dari kota Wonosari, selain masih alami masing-masing pantai memiliki karakteristik sebagai berikut :
Pantai Baron
Pantai Baron merupakan pintu gerbang masuk kawasan obyek wisata Pantai. Pantai ini dikelilingi bukit-bukit kapur yang di atasnya terdapat jalan setapak di mana wisatawan dapat menikmati keindahan laut yang luas dan khas. Di sebelah Barat terdapat muara air sungai bawah tanah (air tawar) sehingga ada suatu tempat pertemuan anatara air laut dan air tawar.
Pantai Kukup
Pantai kukup merupakan pantai berpasir putih yang indah dan luas, terdapat aneka biota laut, terutama ikan hias yang dijual oleh beberapa pedagang dipinggir pantai maupun dipelihara di Gedung Aquarium Laut dekat Pantai. Di sini juga terdapat sebuah Pulau Karang kecil yang diatasnya terdapat gardu pandang untuk menikmati keindahan laut.
Pantai Sepanjang
Pantai sepanjang terletak ± 1 Km sebelah Timur Pantai Kukup, merupakan Pantai yang masih alami dan panti konservasi yang pada waktu tertentu biasa sebagai tempat pendaratan penyu laut untuk bertelur.
Pantai Drini
Pantai Drini merupakan pelabuhan nelayan tradisional dan tempat pelelangan Ikan (TPI), juga terdapat sebuah pulau karang kecil. Pantai ini banyak ditumbuhi pohon Drini yang dipercaya orang sebagai penangkal ular berbisa. Fasilitas yang tersedia anatar lain ; warung-warung makan yang menyediakan sajian makanan trdisional dan seafood
Pantai Krakal
Pantai Krakal merupakan pantai yang luas dan terpanjang diantara 7 pantai lainnya (dalam 1 kawasan), dan terletak 2 Km sebelah Timur Pantai Drini. Pasir putih yang membentang berkilauan di sepanjang pantai, sangat cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati udara laut sambil jogging, ataupun mandi/berenang di pantai, sambil menikmati keindahan alam dan mencari aneka biota laut, dengan membawa jarring kecil yang banyak dijual disana.
Pantai Slili dan Ngandong
Pantai Slili (biasa disebut Watu Lawang) dan Ngandong merupakan dua Pantai yang sangat berdekatan bahkan bisa dikatakan dua pantai yang menyatu, dan tak jauh dari situ ± 500 m kearah Timur kita jumpai Pantai Sundak.
Pantai Sundak
Selain tempatnya sejuk, Pantai Sundak juga cocok untuk tempat berkemah. Fasilitas yang ada ; sebuah bangunan pendopo kecil sebagai tempat pertemuan terbuka, ada sebuah panggung terbuka dan juga banyak terdapat warung-warung makan. Tidak jauh dari pantai terdapat Goa kecil yang di dalamnya terdapat sumber air tawar dan biasa dipakai penduduk untuk mencukupi kebutuhan air minum.
PANTAI PARANGTRITIS
5. Pantai Parangtritis
Parangtritis, salah satu pantai yang terletak di desa Parangtritis, kecamatan Kretek, sekitar 27 Km Selatan kota Yogyakarta, memiliki karakteristik pantai yang khas. Selain memiliki pantai yang landai, pantai parangtritis memiliki pantai curam dan bahkan bertebing (Cliff).
Muara Sungai Opak menjadi outlet sungai yang mensuplai material kawasan gumuk pasir dari Gunung Api Merapi. Flora fauna kawasan pesisir memiliki cirri spesifik. Berbagai aspek pengamatan banyak terdapat dikawasan Pantai Parangtritis.
Selain fenomena fisik, kawasan Pantai Parantritis memiliki cerita dan sejarah yang sangat kental dengan budaya Jawa pada umumnya. Sehingga tradisi masih dipertahankan sampai saat ini.
Sore menjelang matahari terbenam adalah saat terbaik untuk mengunjungi pantai parangtritis ini. Namun bila tiba lebih cepat, tak ada salahnya untuk naik ke Tebing Gembirawati dibelakang pantai ini. Dari sana kita bisa melihat seluruh area Pantai Parangtritis. Pantai Parangtritis juga menawarkan kegembiraan bagi mereka yang berwisata bersama keluarga. Pantai Parangtritis tidak kekurangan sarana untuk having fun. Di pinggir pantai ada persewaan ATV dan bisa naik dokar mengelilingi sekitar pantai. Selain itu jangan lupa mampir ke Parang wedang. Parang Wedang merupakan pemandian air panas alami yang keluar dari dalam bumi yang disebabkan adanya pertemuan dua lempeng bumi yang mengakibatkan timbulnya mata air panas. Air panas yang keluar dari bumi ini dipercaya memiliki banyak khasiat yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit, sakit gigi maupun pegal-pegal dan rematik karena banyak mengandung mineral dengan unsure terbesar Na, Cl, dan Mg.
TAMAN SARI
TAMAN SARI
Taman sari yang dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1757 ini merupakan hasil karya bergaya arsitektur baru yang merupakan campuran Jawa dan Portugis. Pada mulanya Taman sari adalah taman air yang indah dan menawan yang kadang disebut juga Segaran (dalam bahasa Jawa berarti Laut buatan). Dahulu kala, setiap kali Sultan mengunjungi Taman tersebut, beliau akan mendayung perahu pribadinya melewati jembatan gantung yang disebut “Kreteg Gantung” yang letaknya di depan gerbang Kraton, ke selatan atau ke Utara Kemandungan. Bagian lain dari bangunan yang dulu terhubung dengan jembatan yang masih dapat dilihat.
Pada bagian dalam taman ini selain terdapat transportasi air terdapat juga jalan bawah tanah atau terowongan dari kraton menuju salah satu bangunan di taman yang disebut Pasarean Ledok Sari, yakni tempat peraduan dan tempat pribadi Sultan. Juga terdapat Sumur Gumuling, yaitu bangunan bertingkat dua dengan bagian bawahnya terletak dibagian bawah tanah. Di masa lampau, bangunan ini merupakan surau tempat Sultan melakukan peribadatan yang dapat dicapai melalui salah satu lorong bawah tanah yang ada di komplek taman.
Selain itu, masih banyak terdapat lorong bawah tanah, yang dulunya dipakai sebagai jalan penyelamatan apabila sewaktu-waktu komplek ini mendapat serangan musuh. Di salah satu bagian ada bagian yang disebut Pulau Kenanga karena di halaman depan gedung tumbuh pohon kenanga (Canangium Odoratun). Bunga kenanga ini menebarkan bau harum ke seluruh bagian taman.
KERATON JOGYAKARTA
KERATON JOGYAKARTA
Keistimewaan Jogjakarta dalam Balutan Kekayaan Tradisi dan Filosofi Hidup
Sejarah
Asal mula Kasultanan Jogjakarta diawali ketika pada tahun 1558 M Ki Ageng Pamanahan mendapatkan hadiah sebuah wilayah di Mataram dari Sultan Pajang karena jasanya telah mengalahkan Aryo Penangsang. Pada tahun 1577, Ki Ageng Pemanahan yang tetap selalu setia pada Sultan Pajang sampai akhir hayatnya, membangun istananya di Kotagede. Penggantinya, Sutawijaya, anak Ki Ageng Pemanahan, berbeda dengan ayahandanya. Sutawijaya menolak tunduk pada Sultan Pajang dan ingin memiliki daerah kekuasaan sendiri bahkan menguasai Jawa.
Setelah memenangkan pertempuran dengan Kerajaan Pajang, pada tahun 1588, Mataram menjadi kerajaan dengan Sutawijaya sebagai Sultan yang bergelar Panembahan Senopati. Kerajaan Mataram mengalami perkembangan pesat pada masa kekuasaan Sultan generasi keempat, Sultan Agung Hanyokrokusumo. Setelah Sultan Agung wafat dan digantikan putranya, Amangkurat I, Kerajaan Mataram mengalami konflik internal/konflik keluarga yang dimanfaatkan oleh VOC hingga berakhir dengan Perjanjian Giyanti pada bulan Februari 1755 yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Jogjakarta. Dalam perjanjian tersebut, dinyatakan Pangeran Mangkubumi menjadi sultan Kasultanan Jogjakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwana I. Sejak tahun 1988 hingga sekarang, Kasultanan Jogjakarta dipimpin oleh Sultan Hamengku Buwana X.
Keraton Jogjakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti. Lokasi keraton konon adalah bekas sebuah pesanggarahan yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram yang akan dimakamkan di Imogiri. Versi lain menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan, yang ada di tengah hutan Beringan. Sebelum menempati Keraton Jogjakarta, Sultan Hamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Lokasi Keraton Jogjakarta berada di antara Sungai Code di sebelah timur dan Sungai Winongo di sebelah barat serta Panggung Krapyak di sebelah selatan dan Tugu Jogja di sebelah utara. Lokasi ini juga berada dalam satu garis imajiner Laut Selatan dan Gunung Merapi.
Keistimewaan
Kata keraton berasal dari kata ka-ratu-an, yang berarti tempat tinggal ratu/raja. Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta ini memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan). Secara garis besar wilayah keraton memanjang 5 km ke arah selatan hingga Panggung Krapyak dan 2 km ke utara berakhir di Tugu. Pada garis ini terdapat garis linier dualisme terbalik. Bisa dibaca secara simbolik filosofis bahwa dari Panggung Krapyak menuju ke Keraton (Kompleks Kedhaton) menunjukkan "sangkan", yaitu asal mula penciptaan manusia sampai manusia tersebut dewasa. Ini dapat dilihat dari kampung di sekitar Panggung Krapyak yang diberi nama kampung Mijen (berasal dari kata "wiji" yang berarti benih). Di sepanjang jalan D.I. Panjaitan ditanami pohon asam dan pohon tanjung yang melambangkan masa anak-anak menuju remaja. Dari Tugu menuju ke Keraton (Kompleks Kedhaton) menunjukkan "paran" tujuan akhir manusia yaitu menghadap penciptanya. Tujuh gerbang dari Gladhag sampai Donopratopo melambangkan tujuh langkah/gerbang menuju surga (seven steps to heaven). Sedangkan dari Keraton menuju Tugu juga diartikan sebagai jalan hidup yang penuh godaan. Pasar Beringharjo melambangkan godaan wanita, sedangkan godaan akan kekuasaan dilambangkan lewat Gedung Kepatihan. Keduanya terletak di sebelah kanan. Jalan lurus itu sendiri sebagai lambang manusia yang dekat dengan Pencipta (Sankan Paraning Dumadi). Secara sederhana, Tugu adalah perlambangan Lingga (laki-laki) dan Panggung Krapyak perlambangan Yoni (perempuan). Sedangkan Keraton sebagai jasmani yang berasal dari keduanya.
Tugu dan Bangsal Manguntur Tangkil atau Bangsal Kencana (tempat singgasana raja), terletak dalam garis lurus. Hal ini mengandung arti, ketika Sultan duduk di singgasananya dan memandang ke arah Tugu, maka beliau akan selalu mengingat rakyatnya (manunggaling kawula gusti). Tatanan Keraton sama seperti Keraton Dinasti Mataram pada umumnya. Bangsal Kencana yang menjadi tempat raja memerintah –menyatu dengan Bangsal Prabayeksa sebagai tempat menyimpan senjata-senjata pusaka Keraton (di ruangan ini terdapat lampu minyak Kyai Wiji, yang selalu dijaga abdi dalem agar tidak padam)— berfungsi sebagai pusat. Bangsal tersebut dilingkupi oleh pelataran Kedhaton, sehingga untuk mencapai pusat, harus melewati halaman yang berlapis-lapis menyerupai rangkaian bewa (ombak) di atas lautan. Tatanan spasial Keraton ini sangat mirip dengan konstelasi gunung dan dataran Jambu Dwipa, yang dipandang sebagai benua pusatnya jagad raya.
Bangunan-bangunan Keraton Yogyakarta lebih terlihat bergaya arsitektur Jawa tradisional. Di beberapa bagian tertentu terlihat sentuhan dari budaya asing seperti Portugis, Belanda, bahkan Cina. Bangunan di tiap kompleks biasanya berkonstruksi Joglo atau turunan konstruksinya. Secara umum tiap kompleks utama terdiri dari halaman yang ditutupi dengan pasir dari pantai selatan, bangunan utama serta pendamping, dan kadang ditanami pohon tertentu. Kompleks satu dengan yang lain dipisahkan oleh tembok yang cukup tinggi dan dihubungkan dengan Regol yang biasanya bergaya Semar Tinandu. Daun pintu terbuat dari kayu jati yang tebal. Di belakang atau di muka setiap gerbang biasanya terdapat dinding penyekat yang disebut Renteng atau Baturono. Pada regol tertentu penyekat ini terdapat ornamen yang khas.
Keraton diapit dua alun-alun yaitu Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Selatan. Masing-masing alun-alun berukuran kurang lebih 100×100 meter. Sedangkan secara keseluruhan Keraton Yogyakarta berdiri di atas tanah seluas 1,5 km persegi. Bangunan inti keraton dibentengi dengan tembok ganda setinggi 3,5 meter berbentuk bujur sangkar (1.000 x 1.000 meter). Sehingga untuk memasukinya harus melewati pintu gerbang lengkung yang disebut plengkung. Ada lima pintu gerbang plengkung (dua di antaranya masih masih bisa kita saksikan hingga kini) yaitu Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan di sebelah timur laut, Plengkung Jogosuro atau Plengkung Ngasem di sebelah barat daya, Plengkung Joyoboyo atau Plengkung Tamansari di sebelah barat, Plengkung Nirboyo atau Plengkung Gading di sebelah selatan, dan Plengkung Tambakboyo atau Plengkung Gondomanan di sebelah timur. Di dalam benteng, khususnya yang berada di sebelah selatan dilengkapi jalan kecil yang berfungsi untuk mobilisasi prajurit dan persenjataan. Sedangkan sebagai pertahanan, pada keempat sudut benteng dibuat bastion (tiga di antaranya masih bisa kita saksikan hingga kini) yang dilengkapi dengan lubang kecil yang berfungsi untuk mengintai musuh.
Di dalam bangunan benteng, selain ada bangunan keraton tempat tinggal Raja, di sekitarnya juga ada sejumlah kampung sebagai tempat bermukim penduduk, yang pada zaman dulu merupakan abdi dalem keraton, namun pada perkembangan berikutnya, hingga sekarang, orang yang tinggal di dalam benteng keraton tidak harus sebagai abdi dalem. Nama-nama kampung di dalam "njeron beteng" (wilayah dalam benteng) mempunyai sejarahnya sendiri dan masing-masing berbeda. Sebagai contoh gamelan, dahulu merupakan tempat tinggal para abdi dalem yang bekerja sebagai gamel (pemelihara kuda), siliran (pemelihara lampu/alat penerangan), nagan (niyagan/penabuh gamelan), matrigawen (penjaga keamanan lingkungan keraton), patehan (pembuat dan penyedia teh), kenekan (dari kata Bahasa Belanda knecht/pembantu, untuk menyebut para abdi dalem yang membantu kusir/sais kereta kuda), Langenastran (tempat tinggal kesatuan prajurit Langen Astra yang bertugas sebagai pengawal Sultan), Suryaputran (tempat tinggal Pangeran Suryaputra, putra Sultan Hamengku Buwana VIII), Kauman (tempat tinggal para Kaum/pemimpit umat Islam), rotowijayan (tempat menyimpan dan memelihara kereta kuda milik keraton), tamansari (tempat tinggal para istri dan puteri raja yang belum menikah), dan seterusnya.
Lokasi dan Fasilitas
Kompleks Keraton Sultan Jogjakarta terletak di pusat kota Jogjakarta, tepatnya persis di sebelah selatan titik km. 0 Kota Jogjakarta. Dari Tugu Jogjakarta, kita tinggal berjalan lurus ke selatan, melewati Jalan Malioboro hingga memasuki gerbang utara Keraton di Alun-Alun Utara Jogjakarta. Karena terletak di pusat kota Jogjakarta, fasilitas dan akomodasi di sekitar kompleks Keraton Sultan Jogjakarta sangatlah lengkap. Selain segala jenis hotel, dari mulai hotel berbintang hingga hotel melati, dan segala jenis restoran/tempat makan, dari mulai restoran mewah hingga angkringan (warung makan kaki lima khas Jogjakarta), kita juga bisa memanjakan hasrat belanja kita dengan segala macam cinderamata, pakaian, kerajinan, dan makanan khas Jogjakarta di sepanjang Jalan Malioboro, di Pasar Beringharjo, maupun di toko-toko di sekitar kompleks keraton. Semuanya tidak terlalu jauh dari keraton dan bisa ditempuh dengan jalan kaki atau naik becak maupun andong (sejenis kereta kuda). Begitu pula dengan sarana transportasi dan komunikasi, semuanya dapat kita peroleh dengan mudah. Kawasan wisata Keraton Sultan Jogjakarta ini buka setiap hari Senin hingga Minggu, jam 08.00 s.d. 13.30, kecuali hari Jumat jam 08.00 s.d. 11.30. Harga tiket masuk bagi turis lokal Rp. 5.000, -, sedangkan untuk turis asing Rp. 12.500, - .
Candi Borobudur
2. CANDI BOROBUDUR
Borobudur dibangun sekitar tahun 800 masehi atau abad ke -9. Candi Borobudur dibangun oleh para penganut agama Budha Mahayana pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Candi ini dibangun pada masa kejayaan dinasti Syailendra. Pendiri candi Borobudur yaitu raja Samaratungga yang berasal dari wangsa atau dinasti Syailendra. Kemungkinan candi ini dibangun sekitar tahun 824 M dan selesai sekitar menjelang tahun 900-an Masehi pada masa pemerintahan raja Pramudawardhani yang adalah putri dari Samaratungga. Sedangkan arsitek yang berjasa membangun candi ini menurut kisah turun temurun bernama Gunadharma.
Kata Borobudur sendiri berdasarkan bukti tertulis pertama yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jendral Britania Raya di Jawa, yang memberi nama candi ini. Tidak ada bukti tertulis yang lebih tua yang memberi nama Borobudur pada candi ini. Satu-satunya dokumen tertua yang menunjukan keberadaan candi ini adalah kitab Nagarakertagama, yang ditulis oleh mpu Prapanca pada tahun 1365. Di kitab tersebut tertulis bahwa candi ini digunakan sebagai tempat meditasi penganut Budha.
Arti nama Borobudur yaitu “biara di perbukitan” yang berasal dari kata “bara” (candi atau biara) dan “beduhur”(perbukitan atau tempat tinggi) dalam bahasa Sansekerta. Karena itu, sesuai dengan arti nama Borobudur, maka tempat ini sejak dahulu digunakan sebagai tempat ibadat penganut Budha.
Candi ini selama berabad-abad tidak lagi digunakan. Kemudian karena letusan gunung merapi, sebagian besar bangunan candi Borobudur tertutup tanah Vulkanik. Selain itu, bangunan juga tertutup berbagai pepohonan dan semak belukar selama berabad-abad. Kemudian bangunan candi ini mulai terlupakan pada zaman Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke -15.
Pada tahun 1814 saat Inggris menduduki Indonesia, Sir Thomas Stamford Raffles mendengar adanya penemuan benda purbakala berukuran raksasa di desa Bumisegoro daerah Magelang. Karena minatnya yang besar terhadap sejarah jawa, maka Raffles segera memerintahkan H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki lokasi penemuan yang saat itu berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
Cornelius dibantu oleh sekitar 200 pria menebang pepohonan dan menyingkirkan semak belukar yang menutupi bangunan raksasa tersebut. Karena mempertimbangkan bangunan yang sudah rapuh dan bisa runtuh, maka Cornelius melaporkan kepada Raflles penemuan tersebut termasuk beberapa gambar. Karena di ini terus dipugar pada masa penjajahan Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1956 pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO untuk meneliti kerusakan Borobudur. Lalu pada tahun 1963, keluar keputusan resmi pemerintah Indonesia untuk melakukan pemugaran candi Borobudur dengan bantuan dari UNESCO. Namun pemugaran ini baru benar-benar dilakukan pada tanggal 10 Agustus 1973. Proses pemugaran baru selesai pada tahun 1984. Sejak tahun 1991, candi Borobudur ditetapkan sebagai World Heritage Site atau Warisan Dunia oleh UNESCO.
Candi Borobudur terletak di Magelang, Jawa Tengah, sekitar 40 Km dari Yogyakarta. Candi Borobudur memiliki 10 tingkat yang terdiri dari 6 tingkat berbentuk bujur sangkar, 3 tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa. Seluruhnya terdapat 72 stupa selain stupa utama. Di setiap stupa terdapat Buddha. Sepuluh tingkat menggambarkan filsafat Buddha yaitu 10 tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi budha di nirwana. Kesempurnaan ini dilambangkan oleh stpa utama ditingkat paling atas. Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala yang menggambarkan kosmologi Buddha dan cara berpikir manusia.
Di keempat sisi candi terdapat pintu gerbang dan tangga ke tingkat di atasnya seperti sebuah piramida. Hal ini menggambarkan filosofi Buddha yaitu semua kehidupan berasal dari bebatuan. Batu kemudian menjadi pasir, lalu menjadi tumbuhan, lalu menjadi serangga, kemudian menjadi binatang liar, lalu binatang peliharaan, dan terakhir menjadi manusia. Proses ini disebut sebagai reinkarnasi. Proses terakhir adalah menjadi jiwa dan akhirnya masuk ke nirwana. Setiap tahapan pencerahan pada proses kehidupan ini berdasarkan filosofi Buddha digambarkan pada relief dan patung pada seluruh candi Borobudur.
Bangunan raksasa ini hanya berupa tumpukan balok batu raksasa yang memiliki ketinggian total 42 m. setiap batu disambung tanpa menggunakan semen atau perekat. Batu-batu hanya disambung berdasarkan pola dan ditumpuk. Bagian dasar candi Borobudur berukuran sekitar 118 m pada setiap sisi. Batu-batu yang digunakan kira-kira sebanyak 55.000 m³. semua batu tersebut diambil dari sungai di sekitar candi Borobudur. Batu-batu ini dipotong lalu diangkut dan disambung dengan pola seperti permainan lego. Semuanya tanpa menggunakan perekat atau semen.
Sedangkan relief mulai dibuat setelah batu-batuan tersebut selesai ditumpuk dan disambung. Relief terdapat pada dinding candi. candi Borobudur memiliki 2670 relief yang berbeda. Relief ini dibaca searah putaran jarum jam. Relief ini menggambarkan suatu cerita yang cara membacanya dimulai dan diakhiri pada pintu gerbang disebelah timur. Hal ini menunjukkan bahwa pintu gerbang utama candi Borobudur menghadap timur seperti umumnya candi Buddha lainnya.
Candi Prambanan
CANDI PRAMBANAN
Candi prambanan atau candi Rara Jograng adalah kompleks candi hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad 19 masehi. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, wishnu sebagai dewa pemelihara, dan siwa sebagai dewa pemusnah. Berdasarkan prasasti Siwargha nama asli kompleks candi ini adalah Siwargha (bahasa sansekerta yang bermakna : ‘Rumah Siwa’), an memang di garbagriha (ruang utama) candi ini bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi 3 meter yang menunjukkan bahwa candi ini dewa Siwalebih diutamakan. Candi ini terletak di desa Prambanan,pulau Jawa, kurang lebih 20 km timur Yogyakarta, 40km barat Surakarta dan 120 km selatan Semarang,persis diperbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan daerah istimewa Yogyakarta. Candi Rara Jonggrang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten
Candi ini adalah termasuk Situs Warisan dunia UNESCO, candi Hindu terbesar di Indonesia , sekaligus salah satu candi teridah di Asia Tenggara. Arsitektur bangunan ini berbentuk tinggi dan ramping sesuai dengan arsitektur Hindu pada umumnya dengan candi Siwa sebagai candi utama memiliki ketinggian mencapai 47 meter menjulangdi tengah komplek gugusan candi-candi yang kecil. Sebagai salah satu candi termegah di Asia Tenggara, candi Prambananmenjadi daya tarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia. Menurut prasasti Siwagrha, candi ini mulai dibangun pada sekitar tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan, dan terus dikembangkan dan diperluas oleh Balitung Maha Sambu, dimasa kejayaan Medang Mataram.
Terletak di jalan raya Yogya-Solo km. 16 Yogyakarta Indonesia
Langganan:
Komentar (Atom)